Hal seperti ini sangat umum terjadi pada bayi dan anak kecil, terutama di usia 0–3 tahun. Saat tidur, otak anak masih aktif berkembang dan belum sepenuhnya mampu membedakan antara mimpi, sensasi tubuh, dan kondisi sekitar. Akibatnya, anak bisa tiba-tiba menangis, merengek, atau bergerak, lalu kembali tidur seperti tidak terjadi apa-apa.
Beberapa penyebab yang paling sering:
-
Mimpi atau fase tidur ringan
Bayi sering berpindah dari tidur dalam ke tidur ringan. Di fase ini, mereka bisa menangis singkat tanpa benar-benar terbangun. -
Kaget refleks (startle reflex)
Pada bayi, refleks kaget masih kuat. Suara kecil, perubahan posisi, atau sensasi di tubuh bisa memicu tangisan sesaat. -
Perut tidak nyaman
Gas, lapar ringan, atau popok yang mulai penuh bisa membuat bayi protes sebentar lalu tenang kembali. -
Overstimulasi di siang hari
Terlalu banyak rangsangan (suara, cahaya, gendongan berpindah-pindah) dapat membuat otak bayi “memutar ulang” saat tidur. -
Transisi siklus tidur
Siklus tidur bayi lebih pendek daripada orang dewasa. Setiap 40–60 menit, bayi masuk fase setengah sadar dan bisa menangis sebentar.
Selama anak:
- Tetap mudah ditenangkan
- Tidak demam
- Tidak menangis terus-menerus berjam-jam
- Nafsu minum/susu tetap baik
- Perkembangannya normal
maka kondisi ini biasanya tidak berbahaya dan akan berkurang seiring bertambahnya usia.
Namun, sebaiknya periksakan ke dokter jika tangisannya:
- Sangat melengking dan lama
- Terjadi hampir setiap kali tidur
- Disertai demam, muntah, atau kejang
- Anak tampak kesakitan saat terbangun
Dalam banyak kasus, itu hanyalah tanda bahwa sistem saraf anak Anda sedang tumbuh dan belajar mengatur pola tidur.